Untuk Ramadhan yang Berbaik Hati Mengetuk Pintuku Lagi. Aku Bertekad Jadi Lebih Baik di Tahun Ini

Ramadhan yang akbar,

Terima kasih telah sudi menampakkan diri di depan pintu kami lagi. Sejak tadi malam, tanda akan berakhirnya bulan Sya’ban telah ramai berkumandang. Anak-anak kecil di komplek kami pun mulai menumpuk dan membunyikan petasan. Semua gembira menyambut dirimu, yang 11 bulan ini dinanti-nantikan.

Bila mesti jujur, saya tidaklah orang yang paling dekat dengan-Nya. Bulan Ramadhan senantiasa kulewati dengan bebrapa umum saja. Cukup menegakkan beribadah yang harus, yaitu sholat serta berpuasa. Belum juga terpikir untuk lakukan lebih dari yang disuruh.

Ramadhan kesempatan ini menginginkan kucurai dengan tambah baik sekali lagi. Jadi manusia yang lebih sensitif, lebih pintar berterima kasih setiap hari. Waktu Idul Fitri kelak datang, saya tidak senang sebatas suka karna THR atau dapat kembali makan siang. Yang kuinginkan : mencapai sebenar-benarnya kemenangan.

Th. ini juga akan kucoba untuk melaksanakan ibadah tidak cuma yang bebrapa harus saja. Mudah-mudahan tarawihku lebih prima — mudah-mudahan diri semakin banyak berdoa dari pada berbicara

Selama ini saya semakin banyak berupaya melakukan beribadah yang bebrapa harus saja. Sholat fardu, lantas berpuasa. Itupun mati-matian berjuangnya. Terkadang diriku masih tetap dihinggapi kemalasan untuk sholat lima saat. Saat telah punya kebiasaan, tantangannya bertukar jadi sholat pas saat. Untuk sholat yang harus saja saya masih tetap seringkali menahan-nahan. Untuk tarawih, semangatku umumnya kendor di minggu ke-3 bulan puasa.

Th. ini saya juga akan menjalaninya dengan berlainan. Beribadah sunnah juga akan memperoleh pembagian perhatian yang semakin besar dari umumnya. Mudah-mudahan th. ini, tarawihku lebih prima. Tidak sangat banyak bolos karna malas atau “sibuk” buka dengan. Mudah-mudahan th. ini, saya dapat semakin banyak mengaji. Kutargetkan khatam barang sebagian lembar satu hari.

Serta mudah-mudahan th. ini, saya semakin banyak berdoa dari pada keluarkan kalimat yang tidak butuh. Menggunjingkan orang serta kemarahan mesti ku-delete dari kamusku.

Baca Juga: Ucapan Ramadhan

Saya juga menginginkan semakin banyak menggunakan saat dengan rekan serta keluarga. Sampai kini, aktivitas pribadi sudah menghindari saya dari mereka

Ramadhan yang mulia,

Terkadang saya dapat sangat repot menguber dunia. Tanpa ada berniat membentengi diri dari kehangatan rekan serta keluarga karna menginginkan penuhi deadline serta tujuan yang merongrong. Saat bermain dengan rekan-rekan jadi menyusut. Makan dengan keluarga juga tidak dapat sekerap yang dikehendaki.

Karenanya, terima kasih sudah mengizinkanku semakin banyak menggunakan saat dengan anggota keluarga serta kawan-kawan lama. Walau seringkali saya buat orangtuaku jengkel karna sulit dibangunkan untuk sahur, duduk dengan mereka untuk memakan makan saja telah dapat membuatku bersukur. Peristiwa kedatanganmu juga kumanfaatkan untuk menelepon kakek, nenek, pakde serta budhe diluar kota. Suka rasa-rasanya mendengar nada mereka waktu kuucapkan selamat berpuasa. Mereka tersenyum walaupun saya tidak dapat dengan segera memandangnya.

Kau juga membantuku berjumpa sekali lagi dengan adanya banyak rekan lama. Satu per satu undangan buka dengan datang serta saya dengan suka hati menghadirinya. Bercengkerama kembali dengan mereka yang sampai kini repot dengan masalah sendiri-sendiri, buat hatiku penuh terisi. Terkadang saya baru sadar begitu kangennya dengan mereka waktu kembali berjumpa didunia riil.