Rekruiter, Tolong jangan paksa saya menggambar pohon [Lagi]!!!

Menggambar pohon? apa susahnya sih menggambar objek yang satu ini. Mungkin itulah yang kamu pikirkan saat membaca judul tulisan ini. Memang, menggambar pohon itu mudah, dari zaman Sekolah Dasar pun kita sudah terbiasa menggambar objek yang satu ini, bahkan puluhan jenis tanaman sudah pernah kita goreskan di buku gambar kita dahulu.

Kenyataannya menggambar kesempatan ini berlainan. Menggambar pohon kesempatan ini mempunyai maksud spesifik. Bukanlah hanya menggoreskan pensil sampai terjadi jadi satu objek tanaman saja, aktivitas menggambar pohon ini diperuntukkan untuk lihat kepribadian si pembuat. Mungkin saja terdengar seperti penilaian sepihak serta berkesan tergesa-gesa, gambar seorang jadikan satu patokan atau basic penilaian sesaat kepribadian seorang.

Lantas ada problem apa dengan menggambar pohon?

Seorang yang memanglah kurang handal dalam menggambar, akhirnya telah dapat kita tebak. Ya, tentu jauh dari bentuk pohon, mungkin saja lebih persisnya seperti objek yang serupa pohon. Ungkapan ini cuma penghalus saja, bila kita tidak ingin mengatakan gambar yang dibuatnya buruk.

Dulu, saya sempat menulis artikel tentang arti serta makna dari psikotes menggambar pohon. Memanglah, point intinya tidak dari kemiripan gambar itu, namun lebih pada arti gestur serta goresan gambar yang kita buat. Sayang seribu sayang, manusia itu dinamis, manusia senantiasa berubah-ubah. Waktu emosi serta suasanya tengah tidak bagus, jangankan untuk menggambar, bentuk tulisannya saja dapat beralih 180.

Rasa-rasanya memanglah boleh-boleh saja mengetes beberapa calon dengan tes gambar ini, tetapi mesti disertai dengan tes-tes beda yang lebih pas diaplikasikan jadi instument, kususnya sesuai sama jobdesk serta kwalifikasi yang diperlukan. Yang lebih disayangkan sekali lagi, bila tes ini diaplikasikan jadi seleksi step pertama, terlebih untuk tempat teknikal. Walau sebenarnya, tempat teknikal atau tehnis ini lebih pada kekuatan serta skill. Semakin lebih pas bila tujuan seleksi dikerjakan berbentuk test serta masalah solving.

Menggambar pohon serta problematikanya

Hal semacam ini seringkali sekali dihadapi anak-anak teknikal, misalnya lulusan atau sarjana computer. Keluh seseorang rekan yang menurut saya ia mempunyai kwalifikasi yang mempuni. Sebagian bhs pemograman sudah ia kuasai. Apabila dimisalkan, ia serta PC telah merajut ikatan batin. Tidak cuma ikatan, mungkin saja telah jadi simpul batin.

Tetapi, bebrapa sekali lagi sayang seribu sayang, jari-jari manisnya telah sangat akrab dengan tombol-tombol keyboard. Rasa-rasanya asing bila kembali memegang benda arang berbalut kayu ini kembali.

Jujur, pertama kalinya mendengarnya, saya juga berkata ia terlalu berlebih sekali. Tidak lama, ia juga memberikan hasil tulisannya. Waktu lihat goresan pensil hitam itu, saya termenung. Bukanlah terperanjat maupun terpana, lebih persisnya saya bingung. Iya, tulisannya jauh dari kata bagus untuk di baca. Mungkin saja, begitu jauh bila digambarkan jadi tulisan tangan. Mungkin saja saja tulisannya dipengaruhi dari situasi hatinya yang tengah kalut saat itu.

Hingga pada akhirnya dia sendiri yang membacakan tulisan itu. Apa yang ia catat? Isi tulisannya : ” Rekruiter, Tolong janganlah paksa saya menggambar pohon sekali lagi “. Sekali lagi? Ya, kata sekali lagi makin menegaskan kalau ia seringkali tidak berhasil karna tes menggambar pohon. Atau, karna tes yang lain? Mungkin saja saja.

Tulisan ini cuma hanya menyalurkan kekalutan apa yang dirasa rekan saya. Mungkin saja bila ia membaca tulisa ini, ia juga akan menulis pesan singkat serta mengirimnya ke handphone saya dengan bunyi pesan : ” Sialan, gua gak ingin narasi sama lu sekali lagi! “. SUmber: http://www.siamplop.net/